Makin tingginya tingkat populasi di Indonesia, maka makin bertambah juga jumlah alat transportasi yang digunakan. Peningkatan jumlah transportasi ini harus didukung dengan penambahan, pemeliharaan dan pengingkatan kualitas jalan-jalan pendukung transportasi.

Penambahan, pemeliharaan dan peningkatan kualitas jalan ini tidak ditunjang dengan sumberdaya bahan jalan itu sendiri, yaitu, semakin sedikitnya jumlah dan menurunnya kualitas aspal yang diproduksi karena cadangan sumberdaya minyak bumi yang terbatas dan semakin sedikit.

Teknologi-teknologi baru terus dikembangkan untuk mengganti bahan aspal dengan bahan lain ataupun mengefisiensikan penggunaan aspal minyak dengan bahan lain. Namun hal tersebut masih dalam rancangan dan sampai saat ini hasilnya masih dalam kondisi pengamatan penelitian.

Satu teknologi yang bisa dilakukan mengefisiensikan pada perkerasan jalan serta ramah lingkungan adalah metode pendaurulangan jalan, metode teknologi ini dapat mengefisiensikan bahan aspal baru dan agregatnya. Yang paling menarik adalah teknologi ini ramah lingkungan karena selain mengefisiensikan bahan aspal dan agregat teknologi ini mengeffisiensikan bahan bakar pada prosesnya. Effisiensi bahan bakar diperoleh dari sdikitnya pemanasan pada proses pembuatan campuran aspalnya, karena proses pemanasan ini dilakukan hanya pada pembuatan foam bitumen pada proses recyclingnya saja.

Gambar1.jpg

untitled

untitled2

Lir ilir
Lir ilir tandure wus sumilir
Tak ijo royo-royo
Tak sengguh penganten anyar

* Bangunlah-bangunlah
Tanamannya telah bersemi
Bagaikan warna hijau yang menyejukkan
Bagaikan sepasang pengantin baru

Sepenggal bait lagu di atas sangat ramah di sebagian kalangan anak-anak yang kebetulan lahir dalam kultur Jawa. Lagu lir-ilir adalah sebuah pembelajaran yang kaya makna. Diciptakan sekira lima abad yang lalu oleh seorang wali yang memiliki pengaruh luar biasa di atas tanah Jawa, yaitu Sunan Kalijaga. Tujuan awal penciptaan lagu ini adalah untuk memperkenalkan ajaran Islam, yang konon waktu itu masih asing dalam dunia spiritual manusia Jawa. Jika dilihat sekilas, dua hal, yaitu sisi tanaman dan spiritualitas, memiliki rentang makna yang cukup jauh. Akan tetapi, berkat kejeniusan Sang Wali tanaman menjadi begitu lekat dengan penyebaran ajaran Islam di tanah Jawa. Sunan Kalijaga tidak hanya menyuruh pengikutnya untuk melihat ke arah tanaman yang sedang tumbuh menghijau, akan tetapi lebih kepada menyiapkan hati untuk menyambut ajaran baru yang dibawa oleh Sang Sunan. Hal yang dapat disarikan dari pemaparan sebelumnya adalah Kalijaga meminjam filosofi tanaman. Tanaman pula yang akan menjadi pembahasan utama dalam artikel ini. Akan terlalu membosankan untuk melongok tentang sejarah awal munculnya keterkaitan manusia dengan tanaman, akan tetapi yang akan saya paparkan hanyalah secuil cerita tentang ”persahabatan” manusia dengan tanaman.
Tanpa perlu dijelaskan secara panjang lebar, awam pun dapat menyimpulkan bahwa hidup manusia sepenuhnya tergantung kepada tanaman. Tanaman adalah produsen dalam rantai makanan, sedangkan manusia hanyalah konsumen tingkat kedua. Jejaring kebutuhan seperti inilah yang pada akhirnya membentuk perilaku manusia dalam satu proses adaptasi yang panjang dengan alam. Bersawah dan berladang adalah sebentuk bukti penyesuaian diri manusia dengan alam, terlebih lagi terhadap tanaman.

Petani dan Paradigma Konservasi
Sawah adalah sebuah cerita yang menarik. Metode bersawah muncul pada pembabakan sejarah dari sudut pandang arkeologis, yaitu pada zaman batu baru (neolitichum). Pelopor metode bercocok tanam seperti ini adalah Homo Sapiens (manusia cerdas) yang konon menjadi moyang manusia di masa sekarang. Sawah menjadi sumber penghidupan yang penting bagi manusia. Selain menghasilkan bahan pangan, sawah juga memberikan nilai ekonomis yang tak kalah penting. Oleh karena itu, muncul jenis pekerjaan yang sudah sangat ramah di telinga kita, yaitu bertani atau berladang. Kedua jenis pekerjaan inilah yang menghubungkan manusia dengan tanaman secara lebih dekat. ”Dalam perkembangan waktu, saya selalu berusaha untuk menyesuaikan diri dengan tanaman padi saya,” tutur Abah Endar, seorang petani yang sempat saya jumpai di Tasikmalaya. Penuturan Abah Endar tidaklah sebatas bualan belaka. Sejak diperkenalkan dengan tanaman padi jenis SRI (System of Rice Intensification) oleh penyuluh pertanian beberapa bulan yang lalu, Abah Endar menjadi lebih serius dalam menggarap sawahnya. Abah Endar meninggalkan metode bertani cara lama dengan langkah baru yang lebih mudah untuk dilakukan. Padi SRI adalah varietas yang lebih hemat air dan menghasilkan jumlah padi yang lebih banyak, karena dari satu bibit dapat tumbuh sekitar 30 hingga 40 batang padi. SRI adalah padi yang jauh lebih ramah lingkungan. SRI lebih memilih pupuk kandang daripada pupuk kimia. Pemilihan pupuk organik tidak hanya dipandang dari sisi rupiah yang bisa dihemat, melainkan pada proses rejuvenasi (peremajaan) dan pemeliharaan dalam rentang waktu yang jauh lebih lama. ”Yang saya pikirkan tidak hanya memanen berkuintal-kuintal gabah pada satu masa panen, tetapi saya lebih mikirin dalam jangka waktu lima sampai sepuluh tahun ke depan tanah saya masih subur atau tidak untuk ditanami. Sawah yang hanya sepetak ini adalah modal besar bagi anak cucu saya kelak,” imbuh ayah dari tiga orang anak ini. Masih menurut Abah Endar, ”saya mau membuktikan sendiri kata-kata penyuluh pertanian bahwa jika memakai pupuk organik, tanpa campuran pupuk kimia, maka tanah akan menjadi lebih subur ditanami apapun. Dan dalam jangka waktu lima tahun ke depan konon tanah ini bisa ditanami, bahkan, tanpa bantuan pupuk.”
Menengok profil Abah Endar, sepertinya kita patut berbangga. Apa yang dia lakukan adalah salah satu bentuk konservasi tanah yang memang sudah sepantasnya dilakukan sejak dulu mengingat kondisi tanah yang ada di Indonesia sebagian besar sudah berkurang produktivitasnya karena proses eksploitasi yang terus-menerus. Pak Oban adalah petani lain yang memiliki kerangka pikiran yang sama dengan Abah Endar. Pak Oban memang serevolusioner Abah Endar yang langsung menghentikan pemakaian pupuk kimia pada tanaman padinya. Akan tetapi, Pak Oban membuat sawah percobaan di samping sawah utamanya. Dia menyisakan sepeta kecil tanah untuk ditanami bibit padi SRI dengan menggunakan pupuk organik secara keseluruhan. Pak Oban mengakui bahwa sawah utamanya masih menggunakan pestisida, walaupun kadarnya sudah jauh berkurang sebanyak 80 %. ”Saya mah jujur saja kalau ditanya masih memakai pupuk kimia atau tidak. Karena saya mau melakukannya secara perlahan-lahan pada tanaman saya. Biar saya bisa mempelajari sedikit demi sedikit tanaman padi yang saya tanam ini,” terang lelaki berusia 56 tahun ini.

Irigasi dan Proses Mediasi Petani
Padi SRI yang diperkenalkan pada masyarakat Dusun Sawahlega, Desa Salebu ini datang satu paket dengan pengenalan sistem irigasi terpadu. Bibit padi unggul bersinergi dengan sistem irigasi yang baik dan paradigma pikir petani yang lebih ramah lingkungan akan menghasilkan banyak hal positif. Tidak hanya hasil panen yang meningkat, akan tetapi perbaikan pola pikir masyarakat yang menjadi lebih tanggap dengan isu kelestarian lingkungan menjadi jauh lebih penting.
Jauh hari sebelum sistem irigasi yang digagas oleh Balai Irigasi ini diterapkan, petani sudah memiliki sistem pengairan sendiri. Sistem irigasi yang baru adalah bentuk penyempurnaan dari cara-cara lama. Sistem irigasi ini sifatnya jauh lebih permanen, karena parit yang digunakan sebagai saluran air sudah disemen. Air yang mengalir jauh lebih terpantau karena setiap hari ada petugas yang mengecek jikalau ada saluran yang tersumbat atau karena masalah yang lainnya. Balai Irigasi bekerja sama dengan Dinas Bina Marga dan Pengairan setempat melakukan pembelajaran kepada masyarakat tentang pengelolaan sawah dan irigasi yang jauh lebih intensif. Air yang mengalir dalam saluran irigasi dipantau dengan cermat oleh petugas agar dapat diukur tingkat kebutuhannya. ”Setiap hari saya memeriksa saluran-saluran air yang masuk ke petak-petak sawah petani. Apakah kebutuhan akan air di sawah mereka mencukupi atau tidak,” Sutirna menjelaskan. Sutirna adalah salah seorang petugas pemantau irigasi yang mengairi sawah-sawah warga Salebu. Pak Utir, demikian dia disapa, bekerja bersama-sama dengan petani membersihkan parit-parit yang mengelilingi sawah-sawah warga. Proses ini menghasilkan hitungan-hitungan yang menggambarkan tingkat kebutuhan air bagi tiap petak sawah. Angka yang didapat mungkin akan berbeda dari setiap petak sawah. Hal ini tergantung pada luas sawah dan juga kontur tanahnya, apakah tinggi ataupun rendah. Semakin tinggi permukaan tanah, maka air yang didapat akan semakin sedikit.
Air yang mengalir masuk irigasi berasal dari Sungai Ciwulan yang bersumber di kawasan Kabupaten Garut. Sistem irigasi baru yang digagas oleh Balai Irigasi ini cukup membantu petani dalam memetakan kebutuhan akan air. Imbasnya adalah air yang dipakai menjadi jauh lebih hemat. Hal ini bersinergi dengan varietas padi SRI yang memang tidak membutuhkan banyak air bagi pertumbuhannya. Perlakuan petani yang mulai beralih pada pemakaian pupuk organik berpengaruh pada meningkatknya daya serap tanah terhadap air. Tanah yang dipupuk dengan pupuk organik menjadi jauh lebih gembur, walaupun pada permukaan atas tampak kering, akan tetapi jika diinjak tanah akan tetap melesak ke dalam karena kandungan airnya masih cukup tinggi. Berbeda dengan tanah yang diolah menggunakan pupuk kimia. Tanah-tanah ini menjadi kering dan pecah-pecah karena daya serap tanah terhadap air menurun. Hal ini semakin diperburuk oleh matinya cacing karena pengaruh zat kimia yang terkandung di dalam pupuk, sedangkan cacing adalah penggembur tanah yang bekerja secara alami.
Terkontrolnya debit air yang masuk ke dalam sawah petani adalah sebuah solusi penghematan sumber daya air. Karena jumlah air yang masuk hanyalah air yang dibutuhkan oleh setiap sawah. Dari sudut pandang yang lain, sistem irigasi ini merupakan sebuah solusi yang signifikan dalam meredam konflik antar warga yang disebabkan oleh perebutan aliran air. ”Sejak ada irigasi memang panen menjadi meningkat. Hasil panen saya naik satu kuintal dari tahun lalu,” terang Ibu Nur. Baginya air yang sudah teratur dan terjadwal dengan baik semakin mempermudah pekerjaannya. ”Saya menjadi jauh lebih tenang sejak ada irigasi. Sudah jarang sekali ada warga yang ribut karena masalah air,” imbuh Abah Endar.
Mengingat begitu pentingnya masalah air ini, maka dibuat penjadwalan khusus untuk daerah hulu dan hilir. Hal ini dilakukan agar setiap petani dapat mengaliri sawahnya sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Petani pun diajarkan bagaimana caranya memperbaiki kerusakan-kerusakan ringan pada irigasi. ”Kalau misalnya ada yang rusak dan masih diperbaiki oleh petani, ya kami perbaiki sendiri. Bisa dibilang kerja bakti untuk memperbaiki irigasi. Saya senang sekali warga menjadi rukun seperti ini. Jadi, kita bisa menikmati hasilnya bersama-sama,” papar Pak Oban. Lelaki yang memiliki pekerjaan sambilan sebagai pengrajin kasur pegas ini menambahkan di akhir perbincangan, ”Saya selalu merasa beruntung menjadi petani. Biar hasilnya tidak seberapa, saya selalu merasa mendapatkan berkah yang luar biasa dari tanah yang saya olah.”
Banyak pelajaran berharga yang dapat kita sarikan dari pengalaman petani-petani ini, bahwa menghargai alam adalah sebuah keharusan. Ada petuah bijak yang mengajarkan pada manusia bahwa siapapun yang mampu menghargai tanah, niscaya tidak akn pernah merasa kelaparan. Hal ini diamini oleh Abah Endar, ” Tanah yang subur, air yang mengalir, dan tanaman yang menghijau adalah anugerah yang luar biasa bagi saya. Saya bahagia melihat salah satu keturunan saya menjadi petani. Menghargai alam adalah wujud sukur kita kepada yang Maha Pencipta.”
Berhasil atau tidaknya program pengenalan varietas padi SRI dan sistem irigasi ini memang belum bisa diukur dengan pasti, karena program ini baru berjalan selama kurang lebih delapan bulan. Akan tetapi, yang jauh lebih penting adalah berubahnya pola pikir petani dan masyarakat sekitar untuk mengkonservasi tanah dan menghemat air. Dua hal ini dipandang dapat memberikan sumbangan berharga untuk mengurangi efek pemanasan global yang sedang melanda Planet Bumi. Jauh di ujung timur Pulau Jawa, masyarakat Desa Kemiren, Banyuwangi telah mewarisi budaya mencintai tanah dan air yang termanifestasi dalam ritual-ritual sederhana. Mereka mengasumsikan tanaman yang ditanam dan air yang mengalirinya selaiknya manusia. Sekadar contoh adalah ketika musim tanam padi tiba, petani akan membuat acara sukuran dan doa bersama yang dimaksudkan untuk mengharap agar Yang Maha Kuasa memberikan kesuburan pada tanah yang hendak mereka tanami. Saluran-saluran irigasi dibersihkan, rumput-rumput disiangi, pupuk-pupuk kandang memenuhi areal sawah, dan ketika tiba benih ditabur petani juga turut menaburkan harapannya agar hasil panen esok lebih baik dari sebelumnya. Sawah dan air adalah hubungan yang komplementer. Cerita tentang sawah dan air yang mengalir di pinggir pematang sudah jarang kita dengar. Banyak pelajaran berharga yang dapat diambil dari celoteh para petani, kicau burung emprit di atas batang padi, dan gemericik air di sekitar sawah. Ketaksaan peran petani, sebagai penghasil bahan pangan dan pelestari alam, sudah seharusnya membuat kita terusik. Apa yang sudah kita lakukan untuk bumi dan semesta yang telah memberikan kehidupan bagi kita semua? Apakah lewat asap knalpot kendaraan yang setiap hari kita naiki, kertas-kertas yang kita buang sia-sia di tempat sampah, atau lewat nyamannya ruangan berpendingin udara yang konon menghabiskan energi 40 tenaga kuda untuk menyalakannya? Sekali lagi saya bertanya, saya dan Anda sudah melakukan apa? (nanda ika)

Perencanaan program penelitian dan pengembangan (litbang) seringkali menggunakan perencanaan dalam kerangka waktu jangka menengah dan pendek. Dalam kerangka waktu jangka menengah, perencanaan program litbang mengikuti dokumen RPJMN maupun Rencana Strategis K / L. Sementara itu, dalam kerangka waktu jangka pendek (satu tahun), program litbang dirumuskan melalui Rencana Kerja Pemerintah (RKP) dan Rencana Kerja Kementrian / Lembaga (Renja K / L). Pemrograman yang demikian memiliki beberapa kelemahan:

1. Kegiatan litbang yang seharusnya merupakan kegiatan leading dalam pembangunan, seringkali terputus di tengah jalan karena tidak adanya ketegasan tentang tingkat capaian teknologi yang diinginkan;

2. Kegiatan litbang seringkali difokuskan kepada crash program yang merupakan permintaan yang harus dituntuaskan oleh Kementrian atau Lembaga.

3. Kegiatan litbang yang sifatnya berubah-ubah, tanpa arah R & D yang spesifik dan terukur akan menyebabkan pemborosan terhadap dana rakyat, karena dimungkinkan adanya kegiatan litbang yang dilakukan secara berulang-ulang.

4. Adanya rencana jangka panjang dalam R & D teknologi memberikan kepastian kepada peneliti tentang tujuan dan sasaran teknologi yang tengah diteliti dan dikembangkan.

Saat ini, masih banyak institusi R & D pemerintah yang belum memiliki rencana jangka panjang dalam penelitiannya maupun rencana yang jelas perihal arah penelitian dan pencapaian teknologinya. Padahal, Kebijakan Strategis Nasional IPTEK (JAKSTRANAS IPTEK) telah menekankan pentingnya Road Map sebagai landasan akademis dari pelaksanaan R & D, terutama yang diarahkan ke dalam enam fokus bidang di dalam RPJMN. Road Map dalam hal ini didefinisikan sebagai: “… a plan that matches short-term and long-term goals with specific technology solutions to help meet those goals.”

Dengan adanya Road Map litbang, maka pelaksanaan R & D akan lebih terfokus dengan target pencapaian yang jelas. Road Map juga dapat mewadahi komunikasi antara pelaksana R & D dan user teknologi (stakeholder), sehingga keduanya dapat mengetahui teknologi apa yang sudah dimiliki dan apa yang akan dikaji dan dikembangkan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat luas. Gagasan untuk mengintegrasikan antara Road Map Litbang dan dokumen perencanaan pembangunan dapat menjadi langkah lebih lanjut untuk mewujudkan penguasaan teknologi yang lebih baik serta meningkatkan kemampuan manajerial lembaga litbang, terutama dalam hal perencanaan program dan anggaran. [ ]

2009 (c) Gede Budi Suprayoga

Menurut seorang peneliti di bidang bahan dan perkerasan jalan dari Puslitbang Jalan dan Jembatan (PUSJATAN), Prof. Furqon Affandi, teknologi jalan beton di Indonesia relatif sangat terbatas terbatas. Usia penelitian dan pengembangan teknologi ini hanya 24 ( dua puluh empat) tahun. Penguasaan teknologi ini pun masih tertinggal jauh dibandingkan dengan di luar negeri dari segi metoda perencanaaan maupun teknologi pelaksanaan dan pemeliharaannya. Terkait dengan penguasaan teknologi concrete pavement ini, PUSJATAN telah melakukan penelitian dan pengembangan diantaranya:

1. Pengembangan pedoman perkerasan beton semen (rigid) (1985)

2. Pengembangan pedoman perencanaan perkerasan jalan beton semen (2003)

3. Pengembangan pedoman perkerasan beton semen untuk jalan dengan lalu lintas rendah dan menengah (2003)

4. Pengembangan pedoman pelaksanaan perkerasan jalan beton (2004)

5. Pengembangan pedoman pemeliharaan jalan beton (2006)

6. Penelitian bahan joint sealent untuk sambungan dan retak pada perkerasan beton (2008)

Pedoman perencanaan perkerasan beton semen yang dihasilkan tahun 1985, merupakan pedoman perencanaan yang pertama kali dibuat oleh Puslitbang jalan, yang merupakan adopsi dari metoda perencanaan perkerasan beton NAASRA yang telah berusia puluhan tahun ke belakang. Metoda ini didasarkan pada hasil percobaan yang dilakukan oleh NAASRA, sehingga belum bersifat analitis, yang mencakup: jenis perkerasan beton bersambung tanpa tulangan, beton bersambung dengan dengan tulangan serta beton menerus dengan tulangan.

Pedoman perencanaan perkerasan jalan beton yang dikeluarkan tahun 2003 mengacu pula kepada perencanaan perkerasan beton dari NAASRA (1992) yang juga mencakup perkerasan beton bersambung tanpa tulangan, perkerasan beton bersambung dengan tulangan dan perkerasan beton menerus dengan tulangan. Pada perencanaan ini, sudah diperhitungkan kemampuan faktor kelelahan (fatigue) bahan yang digunakan akibat besar dan jumlah pengulangan beban perkiraan jalan tersebut selama umur rencananya. Hal lain yang diperhitungkan pada metoda perencanaan ini, ialah faktor erosi tanah dasar yang akan mempengaruhi keperluan tebal perkerasan jalan tersebut. Tebal pelat beton yang dipilih ialah tebal pelat beton yang memenuhi keamanan kedua faktor tersebut, yaitu ketebalan yang memberikan faktor kelelahan (fatigue) atau faktor erosi yang paling mendekati dan masih dibawah nilai 100%. Selain itu, metoda perencanaan perkerasan beton semen tahun 2003 ini juga memperhitungkan keberadaan bahu jalan terhadap tebal perkerasan yang diperlukan. Metoda perencanaan ini memanfaatkan dowel pada sambungan antar pelat yang berfungsi sebagai penyalur beban ( load transfer) dari pelat satu ke pelat yang sebelahnya.

Dengan perkembangan pembangunan jalan beton yang terus meningkat, maka dibuat Pedoman perkerasan beton semen untuk jalan dengan lalu lintas rendah dan menengah pada tahun 2003. Metoda ini, didasarkan pada kelas beban lalu lintas serta CBR tanah dasar, dimana perkerasan tersebut akan ditempatkan. Pelaksanaam perkerasan ini bersifat sederhana dengan menggunakan alat semi-manual maupun manual. Dari semua metoda perencanaan yang disebutkan diatas, kekesatan permukaan jalan dilakukan dengan membuat alur (grooving) yang dilakukan pada saat beton masih belum terlalu keras. Dari aspek metoda pelaksanaan, pembahasan pelaksanaan jalan beton dimulai dari persiapan tanah dasar, penghamparan beton, serta perawatannya, baik yang menggunakan acuan tetap atau menggunakan acuan gelincir, yang meliputi perkerasan beton bersambung tanpa tulangan, perkerasan beton bersambung dengan tulangan serta perkerasan beton menerus dengan tulangan.

Teknologi jalan beton di luar negeri mengalami perkembangan yang jauh lebihpesat, baik dari segi perencanaan konstruksi perkerasan, bahan yang digunakan, tipe perkerasan beton dan metoda pelaksanaanya. Salah satu metoda yang dikembangkan ialah metoda perencanaan yang bersifat mekanistik, untuk meningkatkan metoda yang selama ini ada, yang didasarkan pada pengembangan dari percobaan – percobaan yang sifat parameter perencanaanya sangat terbatas. Dengan metoda ini, perencanan lebih didasarkan kepada sifat material yang bisa diukur secara teknis, sehingga perencanaan bisa lebih sesuai dengan keadaan dimana perkerasan tersebut dilaksanakan.

Adapun tipe perkerasan yang telah dan tengah dikembangkan lagi, ialah perkerasan beton pracetak dan pracetak – prategang, baik untuk perencanaan jalan baru maupun untuk pemeliharaan, misalnya penggantian pelat beton tertentu yang mengalami kerusakan. Perencanaan jalan beton dengan metoda pracetak – prategang ini, sebagaimana halnya pada konstruksi yang menggunakan sistim prategang, dimaksudkan untuk memberi tekanan awal pada beton sehingga tegangan tarik yang terjadi pada konstruksi perkerasan beton tersebut bisa diimbangi oleh tegangan awal dan kekuatan tarik dari beton itu sendiri. Perkerasan beton dengan sistim pra cetak – pra tegang ini mempunyai beberapa keuntungan, seperti:

1. Mutu beton akan lebih terkontrol, karena dicetak di pabrik

2. Pelat beton menjadi lebih tipis, sehingga keperluan bahan akan lebih sedikit

3. Retak yang terjadi bisa lebih kecil, karena ada tekanan dari baja yang ditegangkan

4. Pelaksanaan di lapangan akan lebih cepat, dan pembukaan untuk lalu lintas pun akan lebih cepat pula.

5. Gangguan terhadap lalu lintas, selama pelaksanaan di lapangan bisa diminimalkan karena pembangunan bisa lebih cepat.

6. Kenyamanan pengguna jalan akan meningkat, karena sambungan antar pelat lebih panjang

Hal yang harus mendapat perhatian lebih lanjut adalah:

1. Diperlukannya ketelitian dalam pembentukan tanah dasar dan lapisan pondasi

2. Diperlukannya ketelitian pada pembentukan pelat di pabrik     

Dari segi keamanan bagi pengguna jalan beton, diluar negeri telah dikembangkan pembuatan permukaan perkerasan yang lebih kesat dan kebisingannya lebih rendah, melalui permukaan perkerasan yang disebut expose aggregate. Begitu juga bahan beton yang bisa mengeras dengan lebih cepat yang digunakan untuk pemeliharaan jalan beton. Indonesia masih membutuhkan pengembangan teknologi ini lebih lanjut untuk mendukung pembangunan jalan yang lebih handal. [ ]

Concrete Pavement

IPTEK merupakan salah satu sektor pembangunan yang penting. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) dengan tegas menyatakan keberadaan sektor tersebut untuk menunjang visi ke depan pembangunan nasional.  Ada beberapa alasan yang umumnya dikemukakan oleh beberapa negara yang menempatkan S & T sebagai sektor pembangunan: (1) Keinginan untuk mendapatkan tenaga kerja dengan tingkat keahlian tinggi yang dapat menunjang pembangunan nasional dan kualitas SDM, (2) Menyiapkan teknologi yang dapat diaplikasikan di lapangan untuk kebutuhan pembangunan, (3) Mendorong tingkat kompetisi global melalui penguasaan teknologi, dan (4) Mendorong pertumbuhan ekonomi nasional melalui sektor, dan (4) Menghasilkan ilmu pengetahuan yang secara spesifik dapat diimplementasikan.

Penelitian dan pengembangan (Research & Development) merupakan salah satu program pembangunan yang berada di bawah sektor ini. Melalui R & D, institusi pemerintah dan swasta dapat berperan serta dalam mempercepat pencapaian tujuan pembangunan. berbagai bidang membutuhkan R & D. Invensi dan inovasi pun dihasilkan dari R & D.

R & D di bidang pekerjaan umum memiliki peran yang sangat penting untuk menghasilkan invensi dan inovasi. Bidang pekerjaan umum yang dimaksud, yaitu bidang jalan dan jembatan, permukiman, dan sumber daya air. Peran bidang ini pun termasuk strategis dalam menciptakan tujuan-tujuan pembangunan, seperti: peningkatan pertumbuhan ekonomi dan pengurangan kesenjangan wilayah. Dengan pembangunan jalan yang didasarkan atas teknologi yang disesuaikan dengan ketersediaan bahan lokal, maka pemerintah dapat mengurangi biaya pembangunan serta mengurangi keterisolasian dan mendorong mobilitas penduduk yang lebih merata.

Di dalam bidang permukiman, penyediaan air minum yang berkualitas telah menjadi target internasional melalui kerangka MDGs. Teknologi di bidang air minum ini menjadi penting agar pemerintah daerah dapat memberikan pelayanan yang handal dan terjangkau. Di bidang sumber daya air, teknologi di bidang pendayagunaan air dan pengendalian daya rusak air akan memegang peranan penting untuk menciptakan ketahanan pangan nasional. Karena sangat pentingnya teknologi di bidang pekerjaan umum ini, maka dukungan terhadap program R & D menjadi penting.

Pemerintah pun mengambil peran penting di dalam program R & D dengan membentuk Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang), yang dalam hal ini berperan dalam R & D di bidang pekerjaan umum adalah, Balitbang Depat. Pekerjaan Umum. Peran dan tanggung jawab dari lembaga R & D ini dituangkan di dalam UU No. 18 tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian dan Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Di dalam UU tersebut, lembaga R & D berfungsi menumbuhkan kemampuan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sementara itu, tanggung jawab yang diembannya adalah mencari invensi serta menggali potensi penggunaan teknologi.

Seiring dengan meningkatnya kebutuhan terhadap pembangunan (jumlah penduduk, kondisi ekonomi global, perlombaan daya saing antarnegara, globalisasi perdagangan, dll), kebutuhan terhadap infrastruktur PU yang handal menjadi sangat penting. Dukungan terhadap teknologi pun menjadi keharusan dan mulai dipertimbangkan untuk dijadikan penggerak di dalam pembangunan infrastruktur.

Sayang sekali, perhatian kita terhadap penelitian dan pengembangan teknologi di bidang pekerjaan umum masih minim. Hal ini nampak dari kurang diapresiasinya teknologi di bidang pekerjaan umum oleh masyarakat. Ada kemungkinan pula bahwa teknologi tersebut kurang disosialisasikan kepada khalayak. Apabila terjadi kerusakan jalan atau bendungan, maka yang disalahkan adalah Departemen / Dinas yang bersangkutan atau peneliti yang memberikan saran teknis. Demikian dekatnya teknologi di bidang pekerjaan umum dengan keseharian masyarakat, hubungannya masih seperti: semut di seberang lautan tampak, gajah di depan mata tidak tampak.

2009 (c) Gede Budi Suprayoga

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.